Tampilkan postingan dengan label Psikososial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikososial. Tampilkan semua postingan

PSSA di Dataran Tinggi Tanoh Gayo

Dokumentasi Yayasan Pulih Aceh
GAYO HIGLAND|, Yayasan Pulih Area Aceh kembali melakukan kegiatan Psychosocial Structure Activities (PSSA) atau kegiatan Psikososial terstruktur untuk tingkat SMA/ SMK/ Sederajat. Kegiatan ini adalah salah satu program pemulihan psikososial berbasis komunitas untuk korban gempa gayo yang di dukung oleh AFCS Indonesia di 2 Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Kegiatan tersebut lakukan pada hari senin/ 17 Maret 2013 yang ikuti oleh 27 siswa/i dan di SMK Negeri 2 Bener Meriah di lakukan pada hari jum’at/ 14 Maret 2013 yang ikuti oleh 26 siswa/i. Penunjukan Sekolah tersebut atas Rekomendasi Dinas Pendidikan di 2 Kabupaten karena  SMA tersebut kenak dampak bencana Gempa pada tanggal 2 juli 2013, maka di anggap perlu untuk dilakukan kegiatan tersebut. Kegiatan ini di  Fasilitator oleh Elly Misra Devita, dia mengajak anak-anak untuk mengenali apa itu konsep diri dan menjelaskan bagaimana  memanfaatkan kekuatan kelompok/ sosial “. Pungkas Sudarliadi.
Kedua kepala sekolah tersebut sangat terbuka untuk melakukan kegiatan PSSA ini serta mengucapkan terimakasih atas kunjungannya dan penunjukan sekolah kami, dia berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan.
Menurut Fatmawati selaku Koordinator Program.  “Kegiatan PSSA itu bertujuan untuk mengupayakan agar anak belajar untuk memanfaatkan kekuatan dalam dirinya di masa sulit, memandang dirinya secara positif, menjalin hubungan positif dengan teman dan mengembalikan kendali diri pada anak, dan terakhir anak dengan berbagai keterampilan hidup serta  keterampilan kerjasama, memecahkan masalah, membantu orang lain. Diharapkan mereka mampu mengatasi persoalan dalam hidupnya dimasa yang akan datang “.



Bencana Banjir Bandang dilihat dari sisi Anak yang Mengalami peristiwa Trauma dan Pemulihan yang bisa dilakukan

Masih ingat peristiwa banjir bandang yang menimpa saudara kita di tangse Tanggal 10 Maret 2011, tepatnya pada pukul 19.00 wib. kini banyak menyisakan berbagai peristiwa dan kenangan bagi masyarakat itu sendiri, kalau dilihat dari segi kebutuhan dimana masyarakat tangse khusunya Gampong Rantau Panyang dan Gampang Blang Pandak adalah masyarakat yang hampir 90 % petani, dan sisanya menjadi pekerjaan lepas. Di sisi lain setiap tahun mereka selalu turun kesawah, dan sekarang hal itu sudah kurang bisa dikerjakan, dikarenakan sawah atau ladang mereka sudah tidak bisa digunakan lagi, banyaknya balok-balok besar dan rusaknya struktur tanah menjadikan alasan tersendiri bagi masyarakat tangse...

kali ini yang menjadi perhatian penulis bukan di bagian masyarakat kehilangan pekerjaan dan bagaimana nasib mereka ketika profesi mereka di alihkan atau digantikan dengan profesi yang lain, hal ini membutuhkan waktu tersendiri bagaimana masyarakat mampu melewatinya.. yang menjadi ketertarikan penulis kali ini, mencoba menyorot dan melihat sisi kehidupan anak pasca peristiwa bencana.
menurut salah satu keterangan masyarakat yang berada di gampong rantau panyang " anak-anak jika ada suara hujan dimalam hari, mereka sering nangis dan tidak boleh jauh dari orang tua mereka" dan hal itu juga di perkuat oleh rekan kerja yang saat ini sedang berada di kawasan gampong rantau panyang.

sangat menarik dari apa yang disampaikan oleh masyarakat tersebut, bahwa perlu di jelaskan secara psikologis bahwa anak-anak pasca peristiwa bencana, mereka mengalami trauma, akan tetapi kita juga harus melihat bentuk trauma apa yang dialami oleh anak-anak tersebut, sehingga dalam proses identifikasi kebutuhan untuk mereka mudah dan praktis sehingga bisa menjawab kebutuhan untuk anak-anak itu sendiri.
Devinisi Trauma itu sendiri adalah berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder.

Secara disiplin ilmu pengertian Trauma psikologis adalah sebuah jenis kerusakan psikis yang terjadi akibat peristiwa traumatis. Bila trauma tersebut mengarah pada Post-Traumatic Stress Disorder ( PTSD), kerusakannya bisa melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan zat kimia otak, yang dapat merusak kemampuan seseorang dalam menangani stress .
sedangkan menurut keterangan yang diambil dari wilkipedia menjelaskan devinisi Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.

Kejadian-kejadian traumatis melibatkan peristiwa tunggal, atau sebuah peristiwa fatal atau serangkaian peristiwa, yang sangat membebani kemampuan individu untuk menerima kejadian dan emosi terkait dengan peristiwa. Keadaan terbebani dapat berlangsung berminggu - minggu, bertahun-tahun, bahkan dekade, sebagaimana seseorang berjuang untuk mengatasi lingkungannya. Trauma dapat disebabkan oleh berbagai macam peristiwa, tapi ada beberapa aspek yang umum

Secara sederhana trauma bermakna luka atau kekagetan (shock). Secara psikologis trauma mengacu pada pengalaman-pengalaman yang mengagetkan dan menyakitkan, yang melebihi situasi stres yang dialami manusia sehari-hari dalam kondisi wajar. Kematian anggota keluarga secara mendadak, keguguran, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, semua ini dapat menjadi contoh pengalaman traumatik. Bila mengacu pada penjelasan ini, kita dapat memahami dengan jelas betapa hal-hal yang dialami oleh individu dan komunitas di daerah konflik berkekerasan merupakan kejadian traumatik. Stres yang diakibatkannya, atau yang menyusul kejadian traumatik disebut sebagai
stres pasca trauma.

ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk anak-anak yang mengalami situasi sulit, dan ini adalah bentuk dari kegiatan yang bisa dilakukan dan dipraktekkan terhadap anak-anak pasca situasi bencana, melalui:

Smile Child Center
smile child center dimana anak diberikan kebebasan dan kenyamanan untuk mengekspresikan perasaannya melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan suasana keceriaan, seperti menonton film-film anak, permainan, menyanyi, menari, dan lain-lain. Di tempat aman tersebut anak dilatih untuk menghilangkan rasa takut terhadap resiko runtuhnya puing-puing bangunan.

Terapi Bermain (Play Therapy)
Terapi bermain digunakan sebagai media untuk menguatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Aktivitas bermain adalah kegiatan bebas yang spontan dan dilakukan untuk kesenangan memiliki manfaat yang positif bagi anak yaitu:
Aspek perkembangan fisik; anak berkesempatan melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh yang membuat tubuh anak sehat dan otot-otot tubuh menjadi kuat
Aspek perkembangan motorik halus dan kasar; dalam bermain dibutuhkan gerakan dan koordinasi tubuh (tangan, kaki, dan mata).
Aspek perkembangan emosi dan kepribadian; dengan bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang ada dalam dirinya. Anak dapat menyalurkan perasaan dan menyalurkan dorongan-dorongan yang membuat anak lega dan relaks,
Aspek perkembangan kognisi; dengan bermain anak dapat belajar dan mengembangkan daya pikirnya,
Media terapi; karena selama bermain perilaku anak akan tampil lebih bebas dan bermain adalah suatu yang alamiah pada diri anak,
Media intervensi; bermain dapat melatih konsentrasi (pemusatan perhatian pada tugas tertentu) dan melatih kemandirian anak.


Terapi Emosi dengan Menggambar
Terapi emosi dengan menggambar dan mewarnai dilaksanakan dengan tujuan agar anak-anak dapat menyalurkan pengalaman emosinya melalui media kertas dan alat tulis. Emosi atau perasaan memainkan peran yang penting dalam kehidupan anak. Emosi dapat menjadi energi yang mendorong anak untuk bertindak secara konstruktif dan kreatif. Ketika anak-anak menggambar dan mewarnai gambar-gambar, dibutuhkan pendampingan oleh konselor untuk membantu menginterpretasikan gambar yang dibuat oleh anak. Teknik menggambar bermanfaat juga sebagai sebuah media untuk berkomunikasi dengan anak dan media bercerita tentang pengalaman emosional anak saat terjadinya gempa.

Belajar Sambil Bermain
Anak-anak merupakan aset negara dan penerus masa depan bangsa. Kondisi bangunan yang hancur terutama sekolah-sekolah tempat anak-anak belajar sehari-hari, mengakibatkan kegiatan pembelajaran terganggu dan tidak mungkin bagi siswa untuk melanjutkan pendidikannya. Rusak atau hilangnya tempat beraktivitas, rumah, halaman, termasuk di dalamnya sekolah merupakan kendala yang perlu dieliminasi. Apalagi bila orang tua dan guru yang selama ini mendampingi mereka tumbuh dan berkembang untuk sementara tidak dapat melakukan tugas karena musibah yang dialami.

semoga bisa bermamfaat dan menjadi pembelajaran untuk kita semua...
basrie_1986@yahoo.com

Kesenian Aceh salah satu Pintu masuk kegiatan Psikososial

Pengertian seni yang digunakan oleh banyak orang mencakup Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Mungkin saya memaknainya dengan keberangkatan orang/ seniaman saat akan membuat karya
seni, namun menurut kajian ilimu di eropa mengatakan "ART" (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan.

Aceh salah satu provinsi di ujung sumatera yang menyimpan beragam bentuk adat dan budaya, tak hanya adat dan budaya yang cukup banyak di aceh, suku-suku yang mendiami aceh juga sangat kaya raya, antara lain: Suku Aceh, Suku Gayo,Suku Alas,Suku Alas, Suku Aneuk Jamee, Suku Melayu Tamiang, Suku Kluet, Suku Kluet, Suku Devayan, Suku Sigulai, Suku Sigulai,Suku haloban, Suku Haloban dan suku Julu.

Salah satu yang sangat menarik untuk kita coba lihat tentang seni rapai geleng, ini merupakan peninggalan para leluhur kita dan sampai sekarang masih terjaga. menurut informasi dari berbagai sumber Rapa`i Geleng pertama kali dikembangkan pada tahun 1965 di Pesisir Pantai Selatan. Nama Rapa`i diadopsi dari nama Syeik Ripa`i yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini. Permainan Rapa`i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair (lagu-lagu) yang dinyanyikan. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial.


Media rapai geleng juga sangat cocok sebagai salah satu pintu masuk dalam melakukan kegiatan yang ada di dalam masyarakat aceh, yaitu pendekatan yang dilakukan sangat simple dan praktis dan tidak susah, hanya kita di sini mencoba memperkenalkan makna daripada kegiatan yang akan di lakukan. selain kita bisa mencintai seni itu sendiri di sisi lain, rapai geleng juga bisa digunakan sebagai bentuk ajang Pemulihan. makna pemulihan di sini dapat kita artikan sebagai suatu proses untuk mengembalikan individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, agar setelah peristiwa traumatis yang terjadi, dapat secara kolektif menjadi kuat, berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah, sehingga menjadi masyarakat yang produktif dan berdaya. apalagi kegiatan rapai geleng dilakukan secara berkelompok, karena prinsip Pendekatan (pemulihan) berbasis komunitas mengutamakan partisipasi anggota masyarakatn itu sendiri, dimana masyarakat memainkan peran penting dalam setiap langkah intervensi yang direncanakan. Selain partisipasi aktif dari masyarakat, aspek yang juga penting adalah bahwa pendekatan ini berfokus pada komunitas sebagai satu keseluruhan yang saling mempengaruhi. Komunitas bukan sekedar sekumpulan individu yang terpisah satu sama lainnya tapi juga individu yang mempuyai hoby dan kegiatan yang sama.

Pengalaman puleh dengan taloe pada tahun 2008, yayasan puleh  bekerjasama dengan taloe pernah melakukan kegiatan psikososial. pendekatan yang dilakukan melalui seni aceh. taloe merupakan salah satu organisasi seni tradisional Aceh yang sejak 2005 mendampingi anak-anak Aceh korban tsunami dan konflik berkekerasan. Taloe yakin bahwa pengajaran seni tradisi membantu proses pemulihan anak secara psikososial.

Pulih bekerja sama dengan Taloe sebagai bentuk pelibatan sumber daya lokal Aceh dalam mewujudkan pemulihan psikososial. Hal ini sejalan dengan prinsip Pulih yang mengutamakan kearifan lokal dalam melakukan pemulihan psikososial. Pulih pun memberikan asistensi teknis bagi para pengajar seni di Taloe. Tujuan pemberian asistensi adalah terjadi peningkatan kapasitas staf Taloe dalam pengetahuan dan ketrampilan psikososial, staf Taloe mampu menjalankan aktivitas psikososial, memantau perkembangan anak dan menuliskan laporan. Diharapkan, pengajar Taloe akan mampu melakukan pendampingan psikososial kepada anak di masa yang akan datang.





Dalam kerjasama ini, Pulih memberikan sesi pengajaran kelas intensif (class session), bengkel kerja (workshop), pengamatan dan bimbingan di lapangan (couching). Materi yang diberikan adalah stress, trauma, perkembangan anak, dampak konflik dan tsunami pada anak, pemulihan psikososial, aktivitas psikososial terstruktur, hak anak, kekerasan pada anak, peran pendamping, kelelahan
pendamping atau burnout. Untuk membuat pengajar Taloe lebih nyaman bekerja, Pulih mengadakan support group atau kelompok dukungan sebulan sekali. Koordinasi mingguan juga dilakukan agar tidak terjadi kesalahan komunikasi dan informasi.

Pemulihan Psikososial Berbasis Komunitas untuk Korban Kekerasan Terhadap Perempuan


Pengertian tentang Kekerasan
Kekerasan terhadap perempuan menjadi konsekuensi paling serius dari ketidak setaraan gender. Perempuan tidak hanya menjadi korban dari bentuk-bentuk kriminalitas umum dari orang tidak dikenal (pencopetan, perampokan) tetapi juga dapat menjadi korban dari orang-orang dekat/keluarga sendiri. Tidak jarang perempuan mengalami kekerasan dalam bentuk berlapis-lapis, baik fisik maupun mental, di rumah maupun dalam masyarakat.

Kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dalam suasana hidup normal maupun dalam situasi konflik dan perang:
  • Kekerasan dalam hubungan dekat/pribadi dan/atau keluarga. Perempuan tidak jarang menjadi kesewenangan pacar, tunangan, suami, mantan suami, ayah dan/atau orang dewasa lain. Bahkan kadang menjadi korban kekerasan dari ibu mertua dan keluarga suami.
  • Kekerasan dalam dunia kerja dan masyarakat. Hal yang umum terjadi adalah pelecehan seksual di tempat-tempat umum dan di tempat kerja. Perempuan merasa tidak aman di banyak tempat, karena sering mengalami pelecehan bahkan (percobaan) perkosaan dari orang yang dikenal maupun tidak dikenal.
  • Kekerasan terhadap perempuan juga tampil dalam praktik-praktik budaya, seperti kawin paksa, kawin pada usia kanak-kanak/muda saat perempuan belum siap secara fisik dan psikologis, dll
  • Kekerasan dalam situasi konflik dan perang. Selain mengalami hal-hal umum yang mengenai anggota masyarakat lain seperti rumah dibakar dan harus mengungsi, dapat pula terjadi pelecehan seksual, ancaman-ancaman, perkosaan, perbudakan seksual, penghamilan paksa dan bentuk-bentuk kekerasan khusus lain pada perempuan.

Bentuk-bentuk dari kekerasan itu sendiri terdiri dari :
  • Kekerasan Fisik, misalnya: didorong, ditampar, ditendang, dipukul)
  • Kekerasan Seksual (terjadi bila salah satu pihak diancam, dipaksa, atau mengalami kekerasan sehingga tindakan seksual terjadi).
  • Kekerasan Psikologis (dihina, dipanggil dengan panggilan yang merendahkan, dll). Suatu tindakan merupakan kekerasan psikologis bila berdampak menyakitkan hati, tidak selalu ada tindakan fisik.
  • Dimensi ekonomi juga dapat memunculkan kekerasan dalam rumah tangga, misalnya istri yang tidak diberi nafkah hidup sehari-hari oleh suami.
Pemulihan
Pemulihan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengembalikan individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, agar setelah peristiwa traumatis yang terjadi, dapat secara kolektif menjadi kuat, berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah, sehingga menjadi masyarakat yang produktif dan berdaya.

Peristiwa kekerasan yang dialami oleh seseorang juga termasuk peristiwa traumatis yang dialami secara individu, yang juga membutuhkan penanganan serius yang bertujuan untuk pemulihan. Bagi korban kekerasan penanganan yang dilakukan ada beberapa cara, salah satunya adalah memberikan pendampingan untuk membantu korban menemukan jati dirinya kembali sehingga menjadi kuat dan dapat kembali berfungsi optimal serta memiliki ketangguhan dalam menghadapi masalah. 

Disamping itu juga untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan, yang berpeluang untuk memecahkan masalah. Cara lain yang dapat dilakukan untuk membantu korban menuju ke proses pemulihan adalah dengan mengandalkan partisipasi anggota masyarakat yang terorganisir secara baik untuk memberikan dukungan dan bantuan yang dibutuhkan korban, termasuk merujuk kasus-kasus kekerasan yang ditemukan didalam masyarakat tersebut ke lembaga-lembaga yang dapat memberikan bantuan secara profesional. 

Masyarakat juga dapat membantu dengan cara tidak mendiskriminasikan korban dan memberikan peluang bagi korban untuk bersosialisasi dengan sesama anggota masyarakat lainnya. Hal ini akan membantu mengembalikan kepercayaan diri si korban, dan membuat ia merasa kuat karena yakin bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya..

Pada saat seseorang pulih, orang tersebut akan menyadari bahwa gejala-gejala yang dialaminya setelah peristiwa traumatis tersebut berkurang, tidak separah yang dialami sebelumnya, dan tidak mengganggunya seperti pada saat awal ia merasakan gejala-gejala tersebut. Ia juga mulai menghayati keberdayaan, termotivasi untuk melakukan langkah-langkah tertentu yang positif bagi hidupnya dan bagi kehidupan orang-orang lain disekitarnya.

Pendekatan (pemulihan) berbasis komunitas mengutamakan partisipasi anggota masyarakat, dimana masyarakat memainkan peran penting dalam setiap langkah intervensi yang direncanakan. Selain partisipasi aktif dari masyarakat, aspek yang juga penting adalah bahwa pendekatan ini berfokus pada komunitas sebagai satu keseluruhan yang saling mempengaruhi. Komunitas bukan sekedar sekumpulan individu yang terpisah satu sama lainnya.

Bencana Banjir Bandang dilihat dari sisi Anak yang Mengalami peristiwa Trauma dan Pemulihan yang bisa dilakukan.

Masih ingat peristiwa banjir bandang yang menimpa saudara kita di tangse Tanggal 10 Maret 2011, tepatnya pada pukul 19.00 wib. kini banyak menyisakan berbagai peristiwa dan kenangan bagi masyarakat itu sendiri, kalau dilihat dari segi kebutuhan dimana masyarakat tangse khusunya Gampong Rantau Panyang dan Gampang Blang Pandak adalah masyarakat yang hampir 90 % petani, dan sisanya menjadi pekerjaan lepas. Di sisi lain setiap tahun mereka selalu turun kesawah, dan sekarang hal itu sudah kurang bisa dikerjakan, dikarenakan sawah atau ladang mereka sudah tidak bisa digunakan lagi, banyaknya balok-balok besar dan rusaknya struktur tanah menjadikan alasan tersendiri bagi masyarakat tangse...

kali ini yang menjadi perhatian penulis bukan di bagian masyarakat kehilangan pekerjaan dan bagaimana nasib mereka ketika profesi mereka di alihkan atau digantikan dengan profesi yang lain, hal ini membutuhkan waktu tersendiri bagaimana masyarakat mampu melewatinya.. yang menjadi ketertarikan penulis kali ini, mencoba menyorot dan melihat sisi kehidupan anak pasca peristiwa bencana.
menurut salah satu keterangan masyarakat yang berada di gampong rantau panyang " anak-anak jika ada suara hujan dimalam hari, mereka sering nangis dan tidak boleh jauh dari orang tua mereka" dan hal itu juga di perkuat oleh rekan kerja yang saat ini sedang berada di kawasan gampong rantau panyang.

sangat menarik dari apa yang disampaikan oleh masyarakat tersebut, bahwa perlu di jelaskan secara psikologis bahwa anak-anak pasca peristiwa bencana, mereka mengalami trauma, akan tetapi kita juga harus melihat bentuk trauma apa yang dialami oleh anak-anak tersebut, sehingga dalam proses identifikasi kebutuhan untuk mereka mudah dan praktis sehingga bisa menjawab kebutuhan untuk anak-anak itu sendiri.
Devinisi Trauma itu sendiri adalah berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder.

Secara disiplin ilmu pengertian Trauma psikologis adalah sebuah jenis kerusakan psikis yang terjadi akibat peristiwa traumatis. Bila trauma tersebut mengarah pada Post-Traumatic Stress Disorder ( PTSD), kerusakannya bisa melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan zat kimia otak, yang dapat merusak kemampuan seseorang dalam menangani stress .

sedangkan menurut keterangan yang diambil dari wilkipedia menjelaskan devinisi Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.

Kejadian-kejadian traumatis melibatkan peristiwa tunggal, atau sebuah peristiwa fatal atau serangkaian peristiwa, yang sangat membebani kemampuan individu untuk menerima kejadian dan emosi terkait dengan peristiwa. Keadaan terbebani dapat berlangsung berminggu - minggu, bertahun-tahun, bahkan dekade, sebagaimana seseorang berjuang untuk mengatasi lingkungannya. Trauma dapat disebabkan oleh berbagai macam peristiwa, tapi ada beberapa aspek yang umum Secara sederhana trauma bermakna luka atau kekagetan (shock). Secara psikologis trauma mengacu pada pengalaman-pengalaman yang mengagetkan dan menyakitkan, yang melebihi situasi stres yang dialami manusia sehari-hari dalam kondisi wajar. Kematian anggota keluarga secara mendadak, keguguran, dipecat dari kerja, mengalami kecelakaan, semua ini dapat menjadi contoh pengalaman traumatik. Bila mengacu pada penjelasan ini, kita dapat memahami dengan jelas betapa hal-hal yang dialami oleh individu dan komunitas di daerah konflik berkekerasan merupakan kejadian traumatik. Stres yang diakibatkannya, atau yang menyusul kejadian traumatik disebut sebagai stres pasca trauma.
ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk anak-anak yang mengalami situasi sulit, dan ini adalah bentuk dari kegiatan yang bisa dilakukan dan dipraktekkan terhadap anak-anak pasca situasi bencana, melalui:

Smile Child Center
smile child center dimana anak diberikan kebebasan dan kenyamanan untuk mengekspresikan perasaannya melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan suasana keceriaan, seperti menonton film-film anak, permainan, menyanyi, menari, dan lain-lain. Di tempat aman tersebut anak dilatih untuk menghilangkan rasa takut terhadap resiko runtuhnya puing-puing bangunan.

Terapi Bermain (Play Therapy)
Terapi bermain digunakan sebagai media untuk menguatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Aktivitas bermain adalah kegiatan bebas yang spontan dan dilakukan untuk kesenangan memiliki manfaat yang positif bagi anak yaitu:
-Aspek perkembangan fisik; anak berkesempatan melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh yang membuat tubuh anak sehat dan otot-otot tubuh menjadi kuat
-Aspek perkembangan motorik halus dan kasar; dalam bermain dibutuhkan gerakan dan koordinasi tubuh (tangan, kaki, dan mata).
-Aspek perkembangan emosi dan kepribadian; dengan bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang ada dalam dirinya. Anak dapat menyalurkan perasaan dan menyalurkan dorongan-dorongan yang membuat anak lega dan relaks,
-Aspek perkembangan kognisi; dengan bermain anak dapat belajar dan mengembangkan daya pikirnya,
-Media terapi; karena selama bermain perilaku anak akan tampil lebih bebas dan bermain adalah suatu yang alamiah pada diri anak,
-Media intervensi; bermain dapat melatih konsentrasi (pemusatan perhatian pada tugas tertentu) dan melatih kemandirian anak.

Terapi Emosi dengan Menggambar
Terapi emosi dengan menggambar dan mewarnai dilaksanakan dengan tujuan agar anak-anak dapat menyalurkan pengalaman emosinya melalui media kertas dan alat tulis. Emosi atau perasaan memainkan peran yang penting dalam kehidupan anak. Emosi dapat menjadi energi yang mendorong anak untuk bertindak secara konstruktif dan kreatif. Ketika anak-anak menggambar dan mewarnai gambar-gambar, dibutuhkan pendampingan oleh konselor untuk membantu menginterpretasikan gambar yang dibuat oleh anak. Teknik menggambar bermanfaat juga sebagai sebuah media untuk berkomunikasi dengan anak dan media bercerita tentang pengalaman emosional anak saat terjadinya gempa.

Belajar Sambil Bermain
Anak-anak merupakan aset negara dan penerus masa depan bangsa. Kondisi bangunan yang hancur terutama sekolah-sekolah tempat anak-anak belajar sehari-hari, mengakibatkan kegiatan pembelajaran terganggu dan tidak mungkin bagi siswa untuk melanjutkan pendidikannya. Rusak atau hilangnya tempat beraktivitas, rumah, halaman, termasuk di dalamnya sekolah merupakan kendala yang perlu dieliminasi. Apalagi bila orang tua dan guru yang selama ini mendampingi mereka tumbuh dan berkembang untuk sementara tidak dapat melakukan tugas karena musibah yang dialami.

semoga bisa bermamfaat dan menjadi pembelajaran untuk kita semua...
basrie_1986@yahoo.com