Penanganan Korban dan Pelaku Bullying


Penanganan yang bisa dilakukan oleh guru  :
  1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
  2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.
  3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan pihak lain.
  4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak anda. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak anda di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).
  5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
  6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani pelaku.

Pencegahan buat anak yang menjadi korban bullying  :
  1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis. Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima. Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
  2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di no. 1a. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
  3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
  4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena  :
  • Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
  • Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
  • Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.
Penanganan buat anak yang menjadi pelaku Bullying  :
  1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.
  2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban.Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
  3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.

https://nsholihat.wordpress.com/tag/cara-mengatasi-bullying



Kita Harus Mengetahui tentang Bullying di Sekolah




Apa itu Bullying

Bullying adalah tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Orang tua sering tidak menyadari, anaknya menjadi korban bullying di sekolah.

Bentuk yang paling umum dari bentuk penindasan/ bullying di sekolah adalah pelecehan verbal, yang bisa datang dalam bentuk ejekan, menggoda atau meledek dalam penyebutan nama. Jika tidak diperhatikan, bentuk penyalahgunaan ini dapat meningkat menjadi teror fisik seperti menendang, meronta-ronta dan bahkan pemerkosaan.

Contoh perilaku bullying antara lain:

Kontak fisik langsung (meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar, mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual).

Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).

Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

Bullying tidak selalu berlangsung dengan cara berhadapan muka tapi dapat juga berlangsung di belakang teman. Pada siswa, mereka menikmati saat memanggil temannya dengan sebutan yang jelek, meminta uang atau makanan dengan paksa atau menakut-nakuti siswa yang lebih muda usianya. Sementara siswi melakukan tindakan memisahkan rekannya dari kelompok serta tindakan lainnya yang bertujuan menyisihkan individu lainnya dari grup, dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang.

Pelaku bullying mulai dari; teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Lokasi kejadiannya, mulai dari; ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah.

Dampak Perilaku Bullying.

Tidak semua korban akan menjadi pendukung bullying, namun yang paling memprihatinkan adalah korban-korban yang kesulitan untuk keluar dari lingkaran kekerasan ini. Mereka merasa tertekan dan trauma sehingga mempersepsikan dirinya selalu sebagai pihak yang lemah, yang tidak berdaya, padahal mereka juga asset bangsa yang pasti memiliki kelebihan-kelebihan lain.

Bagaimana anak bisa belajar kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Sehingga amat wajar jika dikatakan bahwa bullying sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga. 

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri,



Sumber Bacaan :
http://id.theasianparent.com
http://indonesiaindonesia.com







Kasus Pemerkosaan Janda Muda Di Langsa: 8 Orang Yang Terlibat, 3 Sudah Ditangkap Polisi

Jum'at, 9 Mei 2014.
Kota Langsa, Aceh
Terkait pemerkosaan terhadap janda berusia 25 tahun di Langsa, Aceh. Kini polisi masih memburu pelaku pemerkosaan tersebut. Tiga di antaranya sudah ditangkap, tapi hanya dua yang terlibat.


"Satu orang tidak terlibat, jadi kita lepas," kata Kapolres Langsa AKBP Hariadi ketika dikonfirmasi, Kamis (8/5/2014).


Dua orang yang ditangkap saat ini masih diperiksa di Polres Langsa. Dalam pemeriksaan, keduanya mengakui perbuatannya. Polisi masih mengejar 5 pelaku lainnya.

"5 pelaku DPO," tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Syariat Islam Langsa Ibrahim Latief menyebut 9 orang menggerebek rumah janda pada Kamis (1/5) lalu. Tidak dijelaskan jumlah orang yang memperkosa korban. Hanya disebutkan, aksi bejat itu dilakukan setelah pelaku mengikat pria yang menjadi pasangan janda di kamar terpisah.

Usai memperkosa, para pelaku menyerahkan janda dan pasangannya ke aparat desa. Awalnya, aparat desa tidak tahu korban diperkosa. Baru saat diperiksa, korban mengaku diperkosa. Korban dan pasangannya akhirnya diserahkan ke polisi. Sesuai qanun, pasangan mesum itu akan menjalani hukuman cambuk, sedangkan pelaku pemerkosaan akan diproses secara pidana.






Pelaku pemerkosaan Janda muda di Aceh, 1 diantaranya masih Anak - Anak

Kota Langsa_ Aceh, 
Sungguh memprihatinkan! Penggerebekan pasangan mesum di Langsa, Aceh, juga diikuti anak di bawah umur. Dalam pemeriksaan, anak tersebut juga ikut melakukan pemerkosaan. Saat ini, ia ditahan polisi.

"Yang saat ini ditahan adalah M alias Amat Pre usia 31 tahun, pekerjaan wiraswasta, dan satu anak usia 15 tahun," kata Wakapolres Langsa Kompol Hadi Saeiful Rahman, Kamis (8/5/2014).

"Mereka mengakui perbuatannya dan menyesal," imbuh Hadi.

Seorang yang sebelumnya ditangkap usai kejadian, akhirnya dilepas karena tidak ikut memperkosa atau mencabuli korban. Lima lainnya masih dicari. Lima pelaku yang ditetapkan sebagai buronan (DPO) adalah:

1. Saipul (25), pegawai honorer
2. Heru (24), tidak bekerja
3. Anggi (22), tidak bekerja
4. Botak (30), tidak bekerja
5. Pa ak (21), tidak bekerja

Polisi membentuk tim khusus untuk memburu para tersangka perbuatan bejat itu. Mereka berharap keluarga ikut membantu polisi dengan membujuk pelaku untuk pulang dan menyerahkan diri. Pelaku dijerat dengan pasal 285 dan 289 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun. Diharapkan, dalam waktu dekat, kasusnya bisa dilimpahkan ke kejaksaan dan akhirnya ke pengadilan. 

Sedangkan, janda korban pemerkosaan dan pasangan prianya akan menjalani hukuman berbeda. Keduanya akan diajukan ke kejaksaan dan mahkamah syariah. Pasangan mesum ini terancam hukuman cambuk 9 kali.

Tokoh Perempuan Dilatih Ilmu Kepemimpinan


MEULABOH - Puluhan tokoh perempuan yang berasal dari tujuh kabupaten/kota di kawasan barat-selatan Aceh, mendapatkan pelatihan ilmu kepemimpinan yang dilaksanakan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh. Kegiatan ini berlangsung di Aula Losmen Mustika Sari Meulaboh, Aceh Barat, Selasa (6/5).

Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (8/6) mendatang itu, dibuka oleh Asisten II Setdakab Drs Hasan Abdullah, serta dihadiri Kepala P2TP2A Aceh Barat, Tjut Didi Yanti.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Dahlia MAg mengatakan, tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut untuk memberikan berbagai ilmu kepemimpinan terhadap kaum perempuan, khususnya tokoh perempuan di kawasan barat-selatan, dengan harapan kaum perempuan bisa mengambil keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai sisi kehidupan, serta bisa disampaikan langsung kepada kalangan perempuan di wilayah ini.

Materi yang disajikan dalam kegiatan itu di antaranya, pengembangan potensi diri, kepemimpinan perempuan dalam perspektif Islam, manajemen kepemimpinan, organisasi dan musyawarah mufakat, komunikasi efektif dan public speaking.

Sementara itu, Asisten II Hasan Abdullah yang mewakili Bupati Aceh Barat berharap, kegiatan dimaksud mampu memberikan berbagai pemahaman dan ilmu pengetahuan kepada kaum perempuan, dengan harapan nantinya hal ini bisa meningkatkan kapasitas kaum hawa dalam memajukan pembangunan dan perekonomian masyarakat setempat.

http://aceh.tribunnews.com