Selamat Datang Di Pusat Pemulihan Trauma dan Intervensi Psikososial (Pulih Aceh)

Transformasi Paradigma Perlindungan Anak Berbasis Sistem "Refleksi HAN 23 Juli 2015"

Dipublish OLeh: Pulih Aceh


Oleh : 
Taufik Riswan
(Koordinator Yayasan Pulih Aceh)

Komitmen Indonesia untuk mencapai tujuan MDG’s mencerminkan komitmen negara untuk menyejahterakan rakyatnya sekaligus menyumbang pada kesejahteraan masyarakat dunia. Salah satu target MDG’s termasuk diantaranya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui upaya perlindungan terhadap anak. Secara individu anak merupakan tanggung jawab orang tua, namun ada pada irisan tertentu pemenuhan hak dasar anak juga merupakan tanggung jawab masyarakat dan negara.

Selama dekake terakhir ini, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya yang nyata untuk meningkatkan mutu sistem perlindungan anak. Selain meratifikasi KHA dan menandatangani protokol-protokol tambahannya, Indonesia juga telah mengesahkan sejumlah peraturan perundangan yang menangani persoalan perlindungan anak, seperti UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dan rencana aksi nasional yang terkait dengan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak (UNICEF, 2003).

Keberhasilan pencapaian pembangunan di Indonesia nyatanya belum berbanding lurus dengan penurunan kasus pelanggaran yang melibatkan anak. Laporan kasus pelanggaran perlindungan anak semakin meningkat dari tahun ke tahun, angka tertinggi umumnya terkonsentrasi di pusat pemerintahan atau kota.

Dalam pelaksanaan sistem perlindungan anak, pemerintah tentu wajib bersinergi dengan kekuatan lokal termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM). Koalisi Advokasi dan Pemantau Hak Anak (KAPHA) Aceh, termasuk Yayasan Pulih Area Aceh di dalamnya telah memberi bantuan pendampingan hukun dan bantuan psikologis terhadap 19 kasus anak di tahun 2012 dan 17 kasus anak di tahun 2013. dan P2TP2A (Aceh, Tapaktuan, dan Aceh Tamiang) sendiri juga sudah menanggani 251 kasus. dan pasti banyak data-data lain yang belum penulis ketahui, serta juga yang tidak melaporkan kasusnya. dan kasus serupa akan terus meningkat bila tidak tertangani secara tersistem yang komprehensif.

Pada setiap tanggal 23 Juli, Pemerintah secara kelembagaan selalu memperingati Hari Anak Nasional sebagai wujud pengakuannya akan hak-hak anak, tapi tidak sedikit juga Kepala daerah tingkat Propinsi dan Kabupaten/kota yang melupakan komitmennya, bahkan ada sebahagian dari mereka yang tidak tau akan hari Anak Nasional ini. dan posisi anak seperti ini, tanpa sadar sudah diposisikan sebagai kelompok yang terpinggirkan dari proses pembangunan.

Sebenarnya Anak memiliki posisi strategis dalam kehidupan bernegara. Data demografis kelompok penduduk menunjukkan jumlah yang cukup besar untuk penduduk usia anak (0-19 tahun) mencapai 38,46% dari total jumlah penduduk Indonesia (Data Badan Pusat Statistik, 2005). Anak memiliki hak untuk senantiasa hidup dalam lingkungan yang terlindungi dari kekerasan (abuse), penelantaran (neglect), eksploitasi (eksploitation) dan kejahatan (violence). Namun, realitasnya banyak anak-anak yang masih mengalami korban kekerasan dan perlakuan salah dari orang dewasa, bahkan dari orang-orang terdekat dari kehidupan mereka. rasa sakit dan luka psikologis yang diakibatkan dari kekerasan, biasanya akan merasakan berbagai emosi negatif seperti marah, dendam, tertekan, takut, malu, sedih, terancam tetapi tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengembangkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan tak jarang ada yang ingin pergi dari rumah hingga melakukan percobaan bunuh diri.

Dalam tingkatan yang mendasar, penyebab berbagai persoalan seperti kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran anak saling berkaitan. Untuk mengetahui akar masalah dan mengidentifikasi berbagai tindakan yang harus dilakukan untuk melindungi anak diperlukan pendekatan berbasis sistem, bukan pendekatan berbasis isu yang sempit dan hanya berfokus pada kelompok anak tertentu. Sistem perlindungan anak yang efektif mensyaratkan adanya komponen-komponen yang saling terkait.

Komponen-komponen ini meliputi sistem kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan keluarga, sistem peradilan yang sesuai dengan standar internasional, dan mekanisme untuk mendorong perilaku yang tepat dalam masyarakat. Selain itu, juga diperlukan kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung serta sistem data dan informasi untuk perlindungan anak. Di tingkat masyarakat, berbagai komponen tersebut harus disatukan dalam rangkaian kesatuan pelayanan perlindungan anak yang mendorong kesejahteraan dan perlindungan anak serta meningkatkan kapasitas keluarga untuk memenuhi tanggung jawab mereka (UNICEF, 2012).

Pergeseran paradigma perlindungan anak membawa perubahan mendasar pada pelayanan yang diberikan lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak. Perlindungan dipandang sebagai hak setiap anak tanpa kecuali, perlakukan salah terhadap anak bukan lagi isu kemiskinan melainkan telah menjadi isu kejahatan yang memperoleh perlindungan secara legal formal. Perlakuan salah terhadap anak bukan lagi hanya menjadi isu kesejahteraan namun telah dianggap sebagai isu perlindungan, yang mana memposisikan anak memperoleh perlakuan khusus dan dilindungi serta dianggap sebagai korban sistem. Anak bukan lagi dianggap sebagai objek pembangunan yang pasif, namun menjadi aktor yang juga berperan aktif dalam penentuan sikap pembangunan, hal ini tentu disesuaikan dengan kapasitasnya sebagai anak. Pelayanan terhadap kasus anak dilakukan secara profesional dan oleh tenaga profesional tersertifikasi, bukan lagi berlandas pada volunterism yang sulit dipertanggungjawabkan secara profesional. Termasuk pergeseran pelayanan dari institusional based menuju ke family and community based, yang mana memperkuat fungsi pengasuhan di dalam keluarga.

Sumber :
Badan Pusat Statistik. 2005. Data Demografis Kelompok Penduduk.\
Johnson, Victoria et al. 2002. Anak-Anak Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta : Readbook.
Kates, Chaterine dkk. 2011. The Role of National Child Protection System : Save the Children. Italia : Pazzini Stamptore Editore.
Save the Children. 2013. Changin the Paradigm : Save the Children’s Work to Strengthen The Child Protection System in Indonesia.
Unicef Indonesia. Oktober 2012. Ringkasan Kajian Perlindungan Anak.


Tim Yayasan Pulih Aceh berikan penyuluhan tentang Kekerasan di RSIA Kota Banda Aceh

Dipublish OLeh: Pulih Aceh
Foto_YayasanPulihAceh
Banda Aceh, Rumah Sakit Ibu dan Anak Kota Banda Aceh menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dengan topik “Mengenal kekerasan, dampak dan solusinya” di ruang tunggu poliklinik RSIA. Kegiatan penyuluhan ini berlangsung sekitar 1 jam 30 menit di mulai dari jam 10.00 wib sampai jam 11.30 wib. Senin, 6 April 2015.

Kegiatan penyuluhan kesehatan yang di selenggarakan oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Ibu dan Anak Aceh adalah kegiatan rutinitas yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga pasien atau pasien maupun pengujung yang berdatangan dalam mengenali kekerasan, dampak dan solusinya. Panitia pelaksana kegiatan penyuluhan tersebut untuk hari ini mengundang narasumber dari Yayasan Pulih Aceh yang di wakili oleh Silfana Amalia Nasri, S.Psi dan Nida Resti di damping oleh Abdul Arif.

Foto_YayasanPulihAceh
Alhamdulillah responnya bagus, banyak peserta yang tahu apa saja bentuk-bentuk kekerasan, sistem rujukan, bahkan tadi ada juga peserta yang awalnya cuma nunggu dipanggil antrian berobat akhirnya dia ingin berdiskusi dan juga melaporkan kasus kekerasan yang menimpa keluarga nya.” Jelas Silfana Amalia Nasri.

Di samping itu Silfana berharap semoga kegiatan positif ini terus berjalan, dan kalau bisa kita juga mengadakan sosialisasi di tempat yang lain supaya lebih banyak masyarakat mengetahui tentang kekerasan, dampaknya serta solusinya. Kita juga menginformasikan kepada semua pihak yang mengalami dan melihat kekerasan maka segeralah melapor kepada pihak yang berwenang bisa ke kepolisian, P2TP2A terdekat atau lembaga pemberi layanan.”Tutup Relawan Yayasan Pulih Aceh._SDR_



Sekretaris BP3A Aceh : Buka Training Pemulihan Psikososial Angkatan ke 2

Dipublish OLeh: Pulih Aceh
Foto_YayasanPulihAceh

Banda Aceh, Pelatihan pemulihan psikososial bagi perempuan dan anak korban kekerasan di selenggarakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh bekerjasama dengan Yayasan Pulih Area Aceh, Senin_ 6 April 2015 di Training Center BP3A Aceh.

Berdasarkan data dari hasil PNA (Psychosocial Needs Assesment) tahun 2006 dan 2007 yang dilakukan oleh IOM, World Bank dan Harvard University di hampir seluruh wilayah Aceh, dinyatakan bahwa masyarakat mengalami gangguan psikologis klinis seperti stres umum, mengalami gejala-gejala depresi, gejala kecemasan, dan juga gejala yang sesuai dengan kriteria Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)/ Gangguan Stres Pasca Trauma, yang dikarenakan mengalami kekerasan konflik secara langsung seperti kontak senjata, pembunuhan, dan pengrusakan fasilitas umum atau rumah penduduk, pemerkosaan, menjadi saksi penyiksaan, dan kehilangan anggota keluarga karena diculik dan dibunuh.

Foto_YayasanPulihAceh
Hal tersebut di sampaikan oleh panitia pelaksana dalam laporannya, jadi pelatihan ini di selenggarakan untuk mengurangi angka kekerasan yang terjadi di aceh, pelatihan ini akan di selenggarakan selama 3 hari di mulai hari ini senin sampai dengan rabu atau tanggal 6 - 8 April 2015 dan setiap peserta di berikan uang transportasi serta konsumsi selama training berlangsung ", Lapor Dasrita

Di Aceh yang di kenal sebaga negeri syariat islam tapi angka kekerasan setiap tahun sangat meningkat. Memang yang melapor kepada kami melalui P2TP2A Aceh sangat sedikit kasus, kalau kita di teliti di lapangan banyak kasus – kasus tapi masih tertutupi sebab ada beberapa factor ibarat gunung es semakin dalam semakin besar. Bapak/ ibu adalah pekerja social berharap dengan training ini bisa meningkat kapasitas dalam mencegah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Banyak korban kasus kekerasan yang tempatkan di Dinas Sosial Aceh sebab kita di BP3A Aceh belum mempunyai sarana aman untuk korban kekerasan tapi insya allah kita akan terus berusaha untuk memperjuang sarana tersebut khusus di BP3A Aceh. semoga kita berharap pertama sekali bisa kita tangani secara bersama selanjutnya bisa menurunkan angka kekerasan di Aceh ini. Kita juga akan bersosialisasi baik di tingkat sekolah, kampus atau di dalam masyarakat,"Sebut Bapak Syarbaini yang mewakili BP3A Aceh.

Sekretaris BP3A Aceh juga mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Pulih Aceh yang telah membantu proses training ini.

Pembukaan training pemulihan psikososial di tutup dengan do'a oleh Tgk. Novri. _SDR_



Training Pemulihan Psikososial Angkatan ke 2

Dipublish OLeh: Pulih Aceh
foto_yayasanpulihaceh2015
Banda Aceh, Yayasan Pulih Area Aceh bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh akan menyelenggarakan Training Pemulihan Psikososial Angkatan ke 2.

Training pemulihan psikososial angkatan ke 2 ini akan ikuti oleh Tim Satuan Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kementerian Sosial RI dan Dinas Sosial Aceh, petugas PSAA Darusa'adah Kementerian Sosial RI, P2TP2A Aceh, Pusat Pelayanan Terpadu RS Bhayangkara, Kegiatan training ini akan berlangsung selama 3 hari di mulai dengan dari hari senin tanggal 6 s/d 8 april 2015 di Aula BP3A Provinsi Aceh. 

Fasilitator yang akan memfasilitasi training tersebut dari Tim Fasilitator Yayasan Pulih yaitu Taufik Riswan yang sekarang di percaya sebagai Koordinator Yayasan Pulih Aceh dan Dian Marina yang di Yayasan Pulih Aceh sebagai Penasehat serta Ketua P2TP2A Aceh.

Ada 13 sesi yang akan di sajikan dalam training tersebut, di antaranya :
  1. Penguatan Pemulihan Psikososial Perempuan dalam Komunitas 
  2. Kebijakan dan SPM Bidang layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Perlindungan Anak Korban Kekerasan 
  3. Stres, Trauma, dan Strategi Penanggulangannya : Pengalaman Komunitas 
  4. Ketidaksetaraan Gender dan Dampaknya Pada Perempuan dan Anak 
  5. Mengenal Kekerasan Berbasis Gender, Kekerasan Terhadap Anak (KtA), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan Kekerasan Terhadap Perempuan (KtP). 
  6. Isue dan kebutuhan Psikososial Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan 
  7. Mengenal Diri Sebagai Pendamping 
  8. Prinsip-Prinsip Pendampingan pada Anak 
  9. Konseling Dasar/Penguatan Pemulihan Psiksososial 
  10. Pengembangkan Kelompok Dukungan Pemulihan Psikososial 
  11. Sistem Rujukan Pada Kasus Perempuan dan Anak korban Kekerasan 
  12. Self care (Peduli Diri) dan Supervisi Pekerja Sosial 
  13. RTL dan Penutup 
Harapan dari panitia pelaksana training untuk Memberikan pemahaman bagi peserta mengenai pendekatan psikososial dan penguatan psikososial berbasis komunitas untuk penanganan perempuan korban kekerasan, keterampilan konseling dan psikoedukasi kepada peserta dalam melakukan kegiatan pendampingan perempuan korban kekerasan dan keluarga korban, peserta mampu mengenali isu psikososial pada anak, khususnya anak serta perempuan dalam situasi sulit dan peran orang dewasa sebagai pendamping, dan harapan selanjutnya peserta mampu untuk mengembangan kelompok dukungan dan pemberian pendidikan masyarakat._SDR_


DAFTARKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA .................. !!!!

Dipublish OLeh: Pulih Aceh
Sering melihat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, tapi bingung bagaimana cara menanganinya?

Atau

Ingin memiliki keterampilan konseling dasar untuk intervensi perempuan dan anak dalam situasi sulit?

Yayasan Pulih Merupakan Pusat Pelayanan Pemulihan dan Intervensi Psikososial Bagi Perempuan dan Anak Akibat Dampak Bencana, Konflik dan Kekerasan, Yayasan Puleh Aceh bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh akan mengadakan pelatihan :

"Penguatan Psikososial Untuk Pencegahan dan Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak."

Tanggal/waktu Pelaksanaan :
1-2 April 2015, Pukul 08.30 - 17.30 WIB.

Batas Waktu Pendaftaran Hingga Tgl 30 Maret 2015, Jam 23.30 WIB

Tim Trainer/Fasilitator :
Koordinator Yayasan PULIH Area Aceh 
Wakil Koordinator Yayasan PULIH Area Aceh

Tempat:
Training Center Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A)
Jl. Tgk. Malem No. 5 Banda Aceh (Belakang Kantor DPRA).

Fasilitas:
  • Modul
  • Training kit
  • Makan siang dan snack selama 2 hari
  • Sertifikat
  • Supervisi ke sekolah / lembaga (bagi guru dan pengelola lembaga)
  • Kesempatan magang di Yayasan Pulih Aceh (bagi mahasiswa / umum).
Kontribusi:
RP 200.000,- / peserta.

Pelatihan ini juga memberikan Beasiswa Pelatihan untuk 25 Orang yang terpilih, Selain mendapatkan paket Training, Ia juga mendapatkan Uang Penganti Transport. Ayo daftarkan diri anda, semoga anda yang terpilih, selain uang anda dikembalikan, anda juga akan mendapatkan uang saku dari Pelatihan ini, selain fasilitas yang sudah tertera di Atas.

Materi pelatihan:


  1. Konsep dasar penguatan / pemulihan psikososial berbasis komunitas.
  2. Mengenal ketidakadilan gender dan dampak psikososial pada perempuan dan anak.
  3. Deteksi dini dampak psikososial akibat Kekerasan Terhadap Perempuan, Kekerasan Terhadap Anak, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, serta Kekerasan Dalam Pacaran.
  4. Mengenal isu, kebutuhan, dan penguatan psikososial bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
  5. Stres, trauma, dan strategi penanggulangannya.
  6. Mengenal diri sebagai konselor / pendamping.
  7. Percakapan penguatan (prinsip pendampingan, tahapan pendampingan, skill dan keterampilan pendamping perempuan dan anak korban kekerasan).
  8. Praktek dan Latihan Konseling Dasar.
  9. Peduli diri (self care) dan supervisi pekerja sosial / pendamping.

Untuk pendaftaran dapat menghubungi:
0853 6086 3810 Silfana Amalia Nasri
0853 7033 4010 Sudarliadi Alisyahidar


Feed!

Berita

RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!
Alamat :

Jl. Tgk. Menara VIII Lr. Cempaka No. 31 Dusun. Melati
Gampong Garot. Kec. Darul Imarah. Aceh Besar
Telp: +62 651 740 7951,
Handphone : +62812 6993 951
Email: pulih.aceh@pulih.or.id

Feed!

Semua Posting

Views

Sumbangan Anda

Facebook Kami

Copyright © 2009 - PULIH ACEH | Designed Xplory Design